Informasi
Call / SMS
0815-1930-4044
0877-7792-3569
Pin BB
24C6A003
Email
Yahoo Messenger

|
Join us on
|
|
|
|
Sejarah Batik Indonesia
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal
sejak
abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat
itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang
dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami
perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan
tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai
awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya
melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian,
muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun
corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing
daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia
yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak
dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.
Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia
berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan
sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak
dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa
kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk
pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja
Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas
dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga
serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja
yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa
oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
 |
Dalam
perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru
oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi
pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk
mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya
hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian
rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah
hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna
yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia
yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu,
tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari
soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. |
Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak
zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan
berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi
milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah
akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan
ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik
cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar
tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional
Indonesia.
Batik Pekalongan
Meskipun tidak ada catatan
resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut
perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800.
Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik
itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa
bahan baju.
Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah
perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang
sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa.
Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton
serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan.
Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian
di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya
mengembangkan batik.
Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik
yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar
ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik
berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan
adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya
semakin berkembang.
Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan
pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik
berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan
kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.
 |
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa
seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang
pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif
dan tata warna seni batik.
Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil
pengaruh dari berbagai negara tersebut kemudian dikenal
sebagai identitas batik Pekalongan. Adapun motifnya
antara lain batik Jlamprang diilhami dari Negeri India
dan Arab, batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh
peranakan Cina, batik Pagi Sore oleh Belanda, dan
batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.
|
Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan
menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut
batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara
itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa
ke masa.
Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya
pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha
bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang,
sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan
di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan
kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua
wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten
Pekalongan.
Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan
Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara.
Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan
zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan
sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk
unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan
produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan
dikenal sebagai
Kota Batik. Julukan itu datang dari suatu
tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode
yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan,
serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat
setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya
dalam menerima paham serta pemikiran baru.
Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia,
diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi
celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan
sehalus batik Pekalongan.
|
|
Copyrights
|
|